Thursday, April 01, 2010

Tazkirah Hari Ini

 Petikan dari Bersama Dakwah

Hari ini, 523 tahun yang lalu. Muslim Sepanyol di Granada ketakutan. Terbayang kengerian yang akan terjadi sesaat lagi. Pasukan Salib yang telah menawan bandar itu, pasti tidak akan membiarkan mereka hidup. Apalagi berita kebengisan Pasukan Salib telah menyebar dari mulut ke mulut. Mereka kerap membantai kaum muslimin; tidak peduli muda atau tua, laki-laki atau wanita, dewasa mahupun remaja, bahkan balita.

Itulah yang mereka dengar, dan demikianlah faktanya. Pasukan Salib seakan haus darah kaum muslimin. Sehingga ketika mereka memenangi peperangan, masjid-masjid pun digenangi darah kaum muslimin. Padahal kaum muslimin itu bukan tentera. Tidak terlibat perang.

Namun perasaan takut kaum muslimin seketika bercampur dengan kaget dan secercah harapan. "Wahai para muslim Granada, kamu boleh hidup dalam di luar Sepanyol. Maka keluarlah kamu. Sila belayar dan tinggalkan bandar ini!" demikian inti pengumuman yang dikeluarkan oleh Pasukan Salib.

Semula banyak kaum muslimin yang ragu akan pengumuman itu. Namun keinginan mereka untuk hidup dalam Islam mendorong mereka untuk keluar dari persembunyiannya. Mereka berharap, meski terusir dari tanah air tanpa membawa apa-apa, mereka boleh hidup bersama anak-anak yang akan meneruskan agama mulia yang dianutnya. Satu per satu mereka keluar menuju pelabuhan.

Memang benar. Di pelabuhan sudah menanti kapal yang akan mengangkut mereka belayar keluar Sepanyol. Ribuan muslim dalam kapal yang kebanyakan terdiri daripada wanita dan anak-anak itu mula cerah wajahnya. Ada harapan hidup. Namun, harapan ini akan sirna. Jerit histeris anak-anak memenuhi kapal. Tangis para wanita muslimah melipatgandakan kesedihan yang bercampur takut, amarah, dan kebingungan. Kapal itu dibakar! Dibakar oleh tentera Salib. Ternyata semua sudah direncanakan.

Maka bersamaan dengan terbakarnya kapal, mulailah puing-puingnya jatuh memenuhi laut, wanita dan anak-anak pun terpanggang. Tidak butuh waktu lama kapal itu akan tenggelam. Mereka yang sempat selamat dari kobaran api dan hendak lari, disambut dengan sabetan pedang pasukan Salib. Laut pun berubah warna menjadi merah kehitam-hitaman. Menjadi saksi putus sebuah generasi muslim di sebuah negeri.

1 April 1487. Hari itu kemudian dikenali dengan nama "The April Fool Day". Seiring bergulirnya waktu, hari itu disamarkan dan dikenang dengan sebutan April Fool. Demi mengabadikan kemenangan licik itu, April Fool disambut dengan "ritual" boleh mengerjai, menipu dan membuat kacau orang lain pada tarikh ini. Dan orang yang dikerjai, tidak boleh marah.

Seperti kata Ibnu Khaldun, bangsa yang dikalahkan banyak mengekor bangsa yang mengalahkannya. Banyak hal dari luar Islam yang kini ditiru begitu saja oleh umat Islam, khususnya para remajanya. Termasuk April Fool. Mereka tidak tahu, ketika mereka ikut-ikutan merayakan, sesungguhnya mereka tengah merayakan pembantaian atas saudara-saudaranya; yang kebanyakan mangsanya seusia ibu-ibu kita. Merayakan April Fool bermaksud merayakan kekalahan kita, sekaligus merayakan kemenangan musuh kita.

Rasulullah bahkan menggeneralisir setiap tradisi non muslim-khususnya yang berkaitan dengan ritual-merupakan unsur magnetik yang membuat kita bisa terafiliasi dalam hakikat entiti mereka. "Man tasyabbaha bi qaumin, fa huwa minhum" Siapa yang menyerupai sesuatu kaum, maka termasuk golongan mereka.

Buat semua Muslimin Muslimat, para remaja Islam, para pelajar Islam, masihkah kau merayakan April Fool? Semoga tidak lagi.

0 credits: